Rabu, 31 Oktober 2012

Kumpulan Cerita Rakyat Lebong: sejarah lebong

Kumpulan Cerita Rakyat Lebong: sejarah lebong: Suku bangsa Rejang yang dewasa ini bertebaran tentunya mempunyai asal usul mula jadinya, dari cerita secara turun temurun dan beberapa karan...

sejarah lebong

Suku bangsa Rejang yang dewasa ini bertebaran tentunya mempunyai asal usul mula jadinya, dari cerita secara turun temurun dan beberapa karangan-karangan tertulis mengenai Rejang dapatlah dipastikan bahwa asal usul suku bangsa Rejang adalah di Lebong yang sekarang dan ini terbukti dari hal-hal berikut :


* John Marsden, Residen Inggris di Lais (1775-1779), memberikan keterangan tentang adanya empat Petulai Rejang, yaitu Joorcalang (Jurukalang), Beremanni (Bermani), Selopo (selupu) dan Toobye (Tubay).
* J.L.M Swaab, Kontrolir Belanda di Lais (1910-1915) mengatakan bahwa jika Lebong di angap sebagai tempat asal usul bangsa Rejang, maka Merigi harus berasal dari Lebong. Karena orang-orang merigi memang berasal dari wilayah Lebong, karena orang-orang Merigi di wilayah Rejang (Marga Merigi di Rejang) sebagai penghuni berasal dari Lebong, juga adanya larangan menari antara Bujang dan Gadis di waktu Kejai karena mereka berasal dari satu keturunan yaitu Petulai Tubei.
* Dr. J.W Van Royen dalam laporannya mengenai “Adat-Federatie in de Residentie’s Bengkoelen en Palembang” pada pasal bengsa Rejang mengatakan bahwa sebagai kesatuan Rejang yang paling murni, dimana marga-marga dapat dikatakan didiami hanya oleh orang-orang dari satu Bang dan harus diakui yaitu Rejang Lebong.

Pada mulanya suku bangsa Rejang dalam kelompok-kelompok kecil hidup mengembara di daerah Lebong yang luas, mereka hidup dari hasil-hasil Hutan dan sungai, pada masa ini suku bangsa Rejang hidup Nomaden (berpindah-pindah) dalam tatanan sejarah juga pada masa ini disebut dengan Meduro Kelam (Jahiliyah), dimana masyarakatnya sangat mengantungkan hidupnya dengan sumber daya alam dan lingkungan yang tersedia.

Barulah pada zaman Ajai mereka mulai hidup menetap terutama di Lembah-lembah di sepanjang sungai Ketahun, pada zaman ini suku bangsa Rejang sudah mengenai budi daya pertanian sederhadan serta pranata sosial dalam mengatur proses ruang pemerintahan adat bagi warga komunitasnya. Menurut riwayat yang tidak tertulis suku bangsa Rejang bersal dari Empat Petulai dan tiap-tiap Petulai di Pimpin oleh seorang Ajai. Ajai ini berasal dari Kata Majai yang mempunyai arti pemimpin suatu kumpulan manusia.

Dalam zaman Ajai ini daerah Lebong yang sekarang masih bernama Renah Sekalawi atau Pinang Belapis atau sering juga di sebut sebagai Kutai Belek Tebo. Pada masa Ajai masyarakat yang bekumpul sudah mulai menetap dan merupakan suatu masyarakat yang komunal didalam sisi sosial dan kehidupannya sistem Pemerinatahan komunial ini di sebut dengan Kutai. Keadaan ini ditunjukkan dengan adanya kesepakatan antara masyarakat tersebut terhadap hak kepemilikan secara komunal. Semua ketentuan dan praktek terhadap hak dan kepemilikan segala sesuatu yang menyangkut kepentingan masyarakat dipimpin oleh seorang Ajai. Walaupun sebenarnya dalam penerapan di masyarakat seorang Ajai dan masyarakat lainnya kedudukannya tidak dibedakan atau dipisahkan berdasarkan ukuran derajad atau strata.

Sungguhpun demikian pentingnya kedudukan Ajai tersebut dan di hormati oleh masyarakatnya, tetapi masih dianggap sebagai orang biasa dari masyarakat yang diberi tugas memimpin, ke empat Ajai tersebut adalah:

* Ajai Bintang memimpin sekumpulan manusia yang menetap di Pelabai suatu tempat yang berada di Marga Suku IX Lebong
* Ajai Begelan Mato memimpin sekumpulan manusia yang menetap di Kutai Belek Tebo suatu tempat yang berada di Marga Suku VIII, Lebong
* Ajai Siang memimpin sekumpulan manusai yang menetap di Siang Lekat suatu tempat yang berada di Jurukalang yang sekarang.
* Ajai Malang memimpin sekumpulan manusia yang menetap di Bandar Agung/Atas Tebing yang termasuk kedalam wilayah Marga Suku IX sekarang.

Pada masa pimpinan Ajai inilah datang ke Renah Sekalawi empat orang Biku/Biksu masyarakat adat Rejang menyebutnya Bikau yaitu Bikau Sepanjang Jiwo, Bikau Bembo, Bikau Pejenggo dan Bikau Bermano. Dari beberapa pendapat menyatakan bahwa para Bikau ini berasal dari Kerajaan Majapahit namun beberapa tokoh yang ada di Lebong berpendapat tidak semua Bikau ini bersal dari Majapahit. Dari perjalan proses Bikau ini merupakan utusan dari golongan paderi Budha untuk mengembangkan pengaruh kebesaran Kerajaan Majapahit, dengan cara yang lebih elegan dan dengan jalan yang lebih arif serta mementingkan kepedulian sosial dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya lokal.

Melalui strategi para utusan Menteri Kerajaan seharusnya tidak lagi berusaha untuk menyebarkan kebudayaan serta bahasa Jawa. Oleh karena itu golongan paderi Budha yang memiliki tindakan yang tenang dan ramah tamah, dengan mudah dapat diterima dan masyarakat Rejang. Terbukti bahwa keempat Biku tersebut bukanlah mempunyai maksud merampas harta atau menerapkan upeti dan pajak terhadap Raja Majapahit, namun mereka hanya memperkenalkan kerajaan Majapahit yang tersohor itu dengan raja mudanya yang bernama Adityawarman. Sewaktu mereka sampai di Renah Sekalawi keempat Biku tersebut karena arif dan bijaksana, sakti, serta pengasih dan penyayang, maka mereka berempat tidak lama kemudian dipilih oleh keempat kelompok masyarakat (Petulai) dengan persetujuan penuh dari masyarakatnya sebagai pemimpin mereka masing-masing.

* Biku Sepanjang Jiwo menggantikan Ajai Bitang
* Biku Bembo menggantikan Ajai Siang
* Biku Bejenggo menggantikan Ajai Begelan Mato
* Biku Bermano menggantikan Ajai Malang

Setelah dipimpin oleh empat Biku, Renah Sekalawi berkembang menjadi daerah yang makmur dan mulai produktif pertaniannya sudah mulai bercocok tanam, berkebun dan berladang. Sehingga pada saat itulah kebudayaan mereka semakin jelas dan terkenal dengan adanya tulisan sendiri dengan abjad Ka-Ga-Nga (sampai sekarang masih lestari dan di klaim menjadi tulisan asli Bengkulu).

Setelah keempat Biku terpilih untuk memimpin kelompok masyarakat mendapat sebuah tantangan dalam bentuk bencana wabah penyakit yang menyerang masyarakat. Bencana itu terjadi kira-kira akhir abad ke XIII, wabah penyakit yang banyak merenggut jiwa masyarakat tanpa memandang umur dan jenis kelamin. Menurut ramalan para ahli nujum setempat yang menyebabkan datangnya musibah itu adalah seekor beruk putih yang bernama Benuang Sakti dan berdiam di atas sebuah pohon yang besar di tengah hutan.

Untuk mencari jalan keluar atas bencana yang terjadi, keempat Biku itu bersepakatlah untuk mencari pohon besar tersebut dan segera menebangnya dengan sebuah harapan setelah ditebang dapat mengakhiri wabah yang terjadi. Setelah membagi tugas masing-masing mereka berpencar ke segala penjuru hutan dan akhirnya rombongan Biku Bermano sampai dan menemukan pohon besar yang mereka cari, mereka kemudian segera untuk menebang pohon besar itu, namun usaha mereka tidak berhasil menebang pohon tersebut karena semakin ditebang oleh kapak, pohon tersebut semakin bertambah besar, kejadian yang sama terjadi, setelah rombongan dari Biku Sepanjang Jiwo sampai di tempat yang sama dan mencoba untuk menebang pohon besar itu, disusul rombongan dari Biku Bejenggo tetapi pohon itu pun tidak juga roboh. Pada saat itu munculah rombongan terakhir yaitu Biku Bembo dan kepada mereka diceritakan kejadian aneh yang mereka alami dalam menebang pohon besar yang tidak mau roboh setelah ditebang bahkan pohon itu bertamah besar.

“Riwayat saat bertemu rombongan pimpinan Biku Bembo bertemu dengan ketiga rombongan di tempat ditemukannya pohon besar yang di atasnya ada beruk putih bernama Benuang Sakti berada terlontarlah kata-kata dalam bahasa Rejang: pro pah kumu telebong yang berarti di sini kiranya saudara-saudar berada. Sejak peristiwa itu Renah Sekalawi bertukar nama menjadi Lebong”.

Setelah diceritakan kejadian yang terjadi kepada rombongan Biku Bembo, mereka bermusyawarah untuk mengatasi masalah yang terjadi itu dan bersepakat meminta petunjuk kepada Sang Hiang (Yang Maha Kuasa) supaya dapat mencari cara bagaimana menebang pohon besar itu supaya dapat ditebang. Cara yang dilakukan oleh keempat Biku itu adalah dengan betarak (bertapa), setelah betarak dilakukan mereka mendapat petunjuk pohon itu dapat ditebang kalau dibawahnya digalang/ditopang oleh tujuh orang gadis muda/remaja.

Setelah itu mereka bergegas menyiapkan segala sesuatu petunjuk yang didapat oleh Sang Hiyang termasuk bagaimana caranya mereka mencari akal supaya ketujuh gadis itu supaya tidak menjadi korban atau mati tertimpa oleh pohon besar yang akan dirobohkan. Selanjutnya mereka menggali parit untuk menyelamatkan ketujuh gadis penggalang itu. Setelah pekerjaan membuat parit dan ketujuh gadis siap untuk menggalang pohon yang akan dirobohkan, maka mulailah pohon besar itu ditebang dan sesungguhnya pohon itu roboh di atas tempat ketujuh gadis penggalang. Parit yang dibuat tepat di tempat rebahnya pohon besar yang telah ditebang telah menyelamatkan ke tujuh gadis dari maut dan terlindungi di dalam parit yang dibuat.

* “Peristiwa yang diriwayatkan di atas dijadikan awal dari pemberian nama bagi petulai-petulai mereka sesuai dengan pekerjaan rombongan pemimpin masing-masing dalam usaha menebang pohon besar dimana tempat bersemayam beruk putih Benuang Sakti”.
* Petulai Biku Sepanjang Jiwo diberi nama Tubeui atau Tubai, asal kata dari bahasa Rejang “berubeui-ubeui” yang berarti berduyun-duyun.
* Petulai Biku Bermano diberi nama Bermani, asal kata ini dari bahasa Rejang “beram manis” yang berarti tapai manis.
* Petulai Biku Bembo diberi nama jurukalang, asal kata dari bahasa Rejang “kalang” yang berarti galang.
* Petulai Biku Bejenggo diberi nama Selupuei asal kata dari bahasa Rejang “berupeui-uoeui” yang berarti bertumpuk-tumpuk.

Maka sejak saat itulah Renah Sekalawi bernama Lebong dan tercipta Rejang Empat petulai yang menjadi Intisari dan asal mula suku bangsa Rejang.

Kesepakatan yang di bangun setalah prosesi penebangan kayu Benuang Sakti ini semua rakyat di bawah pimpinan Bikau Sepanjang Jiwo di mana saja mereka berada di satukan di bawah kesatuan Tubey dan berpusat di Pelabai. Dengan kembalinya Bikau Sepanjang Jiwo ke Majapahit atau ada yang berpendapat ke bagian Majapahit Melayu yang berfusat di Pagar Ruyung, kepemimpinan Bikau ini kemudian di gantikan oleh Rajo Mengat atau Rajo Mudo Gunung Gedang yang kedatangannya dapat diperkirakan sekitar abad ke-15.

Baru setelah kepemimpinan Rajo Mengat ini yang digantikan oleh anaknya bernama Ki Karang Nio yang memakai gelar Sultan Abdullah akibat pertambahan jumlah penduduk dan kebutuhan untuk invansi wilayah, maka anak komunitas ini bertebaran dan membentuk komunitas-komunitas baru atas kesepakatan besar yang dilakukan di Lebong kemudian Petulai Tubey ini dipecahkan menjadi Marga Suku IX yang berkedudukan di Kutai Belau Saten, Marga Suku VIII di Muara Aman dan Merigi untuk pecahan Petulai Tubey di Luar wilayah Lebong.

Petulai Selupu tidak pecah dan tetap utuh walaupun anggota-anggotanya bertebaran ke mana-mana. Menurut riwayat Bikau Pejenggo yang mengantikan Ajai Malang ini berkedudukan di Batu Lebar di Kesambe yang merupakan wilayah Rejang, sedangkan Desa Administratif Atas Tebing include ke dalam wilayah adat Selupu Lebong yang merupakan wilayah desa yang berbatasan dengan wilayah adat Rejang Pesisir dan Desa Suka Datang berada dalam wilayah Marga Suku IX secara fisik berbatasan dengan wilayah Adat Bintunan Rejang Pesisir.

Sistem Kelembagaan Komunal/Adat

Dari resume yang ditulis di atas dapat diketahui bahwa asal usul suku bangsa Rejang dari Lebong dan berasal dari empat Petulai yaitu Jurukalang, Bermani, Selupu dan Tubey. Dari Tulisan Dr Hazairin dalam bukunya De Redjang yang mengutip tulisan dari Muhammad Husein Petulai di sebut juga dengan sebutan Mego.

Hal ini di perkuat juga dengan tulisan orang-orang inggris yang pernah di Bengkulu Marsden dan Raffles demikian juga dengan orang Belanda Ress dan Swaab menyebut juga perkataan Mego.

Petulai atau Mego ini adalah kesatuan kekeluargaan yang timbul dari sistem unilateral dengan sistem garis keturunan yang patrilinial dan perkawinan yang eksogami, sekalipun mereka terpencar dimana-mana. Sistem eksogami ini merupakan syarat mutlah timbulya Petulai/clan sedangkan sistem kekeluargaan yang patrilineal sangat mempengaruhi sistem kemasyarakatan dan akhirnya mempengaruhi bentuk kesatuan dan kekuasaan dalam masyarakat.

Pada zaman Bikau masyarakat di atur atas dasar sistem hukum yang di buat berdasarkan azas mufakat/musyawarah, keadaan ini melahirkan kesatuan masyarakat hukum adat yang disebut dengan Kutai yang dikepalai oleh Ketuai Kutai. Kutai ini bersal dari Bahasa dan perkataan Hindu Kuta yang difinisikan sebagai Dusun yang berdiri sendiri, sehingga pengertian Kutai ini adalah kesatuan masyarakat hukum adat tunggal yang geneologis dengan pemerintahan yang berdiri sendiri dan bersifat kekeluargaan.

Pada Zaman kolonial kemudian sistem kelembagaan dan pemerintahan adat ini oleh Assisten Residen Belanda J. Walland (1861-1865) kemudian mengadopsi sistem pemerintahan lokal yang ada di wilayah Palembang dengan menyebut Kutai atau Petulai ini dengan sebutan Marga yang dikepalai oleh Pesirah. Dengan bergantinya sistem pemerintahan ini Kutai di ganti dengan sebutan Dusun sebagai kesatuan masyarakat hukum adat secara teroterial di bawah kekuasaan seorang Kepala Marga yang bergelar Pesirah. (team AMARTA: Salim Senawar, Erwin S Basrin, Madian Sapani, Henderi S Basrin, Sugianto Bahanan, Hadiyanto Kamal, Riza Omami, Bambang Yuroto)

Kerak Emas Cincin Api


133149198795397919
Lubang kacamata di lebong tambang kec.lebong utara
Bisa dibilang, sumber emas — di belantara Bengkulu, kaki cincin api gugusan Kerinci-Seblat— itu sudah di depan hidung William Marsden dan Thomas Stamfort Raffles. Tapi luput dari pengamatan dua pencatat hebat yang lama bermukim di Bencoolen(sekarang Bengkulu). Mereka lebih banyak membahas dataran tinggi minangkabau sebagai sumber emas Sumatra. Raffles bahkan mblusuk ke tambang-tambang emas di wilayah yang saat itu dikuasai kerajaan Pagaruyung.
Marsden si Irlandia, 8 tahun bermukim di Bengkulu (1771 – 1779). Kesukaannya mencatat kelak menjadi buku terpuji sebagai catatan mendalam pertama tentang Sumatra; History of Sumatra. Raffles sedikitnya 6 tahun menjabat sebagai orang pertama di Bengkulu. Antara 1818 hingga 1824. Selain mewariskan karya tulisnya yang gemilang, History of Java, Raffles banyak menuliskan catatan perjalanannya di Sumatra. Keduanya luput soal emas Lebong.
Memang emas di pedalaman Bengkulu itu baru dieksploitasi secara besar-besaran jauh setelah Raffles meninggalkan Bengkulu. Hampir tigaperempat abad sejak Bengkulu diberikan ke Belanda oleh Inggris, ditukar Singapura. Tapi hikayat penambangan emas di Lebong berkait dengan upaya kerajaan Pagaruyung —yang disambangi Raffles— mencari tambang emas baru.
Dikisahkan, sekitar abad ke-13, raja Pagaruyung Sultan Daulat Mahkota Alamsyah memerintahkan Tuanku Imbang Jaya untuk mencari daerah baru yang tanahnya mengandung emas di daerah Kerinci, Jambi. Setelah menemukan tambang emas di Kerinci, perburuan bijih emas pun dilanjutkan ke daerah lain. Hingga mencapai pedalaman Lebong, Bengkulu.
Tambang-tambang emas kuno itu kemudian berangsur sepi penambang. Gempa bumi yang meruntuhkan lubang-lubang tambang menjadi momok selain harimau. Kedua momok ini masih kerap muncul hingga kini. Beberapa tahun lalu, seorang kawan penggiat lingkungan di Bengkulu mengaku suatu kali tak berani membuat peta kawasan hutan dekat kawasan tambang itu. Musim harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) masuk kampung, katanya.
Kawasan tambang kuno itu makin ditinggalkan setelah Inggris menguasai Bengkulu, pada abad ke-17. Penduduk Lebong lebih suka berkebun atau mengumpulkan hasil hutan yang banyak dicari Inggris, damar, rotan, pala, dll. Tapi kegiatan penambangan emas tetap dilakukan oleh sejumlah kecil penambang, yang kelak merangsang para pengusaha tambang Belanda mengejar urat emas di tambang-tambang kuno dan yang disebut-sebut dalam cerita-cerita rakyat.
  • Muara Aman
Singkat cerita, singgahlah saya ke Lebong diantar beberapa karib. Di kota Muara Aman. Tak jauh dari kawasan Taman Nasional Kerinci – Seblat. Kota ini kecil saja. Tak memberi kesan ia pernah menjadi kota terbesar kedua se-wilayah Bengkulu, sebagai pusat ekonomi penting pada awal abad ke-20.
Keramaian terpusat di pasar berpampilan sederhana. Tak beda dengan pasar-pasar lain di kawasan ulu sungai di Sumatra. Bangunan pertokoan masih sederhana, tak penuh ruko “kotak sabun” macam di kota-kota ilir sungai. Di ibukota kabupaten Lebong ini, pasar masih didominasi bangunan kayu satu lantai. Beratap seng yang sebagian besar dihitamkan karat.
Banyak toko emas perhiasan, sembako, pakaian, dan barang kelontong. Di satu toko kelontong tampak sebagian sisi luar penuh bergelantung sapu ijuk bertangkai kayu. Pasar juga menjadi tempat tumbuh kios-kios penjual keping CD film dan lagu. Mereka menambah perbendaharaan bunyi bagi para pelintas. Dari beberapa arah terdengar lagu-lagu pop yang sedang populer hingga irama “melayu kocok”, iramanya melayu musik penggiringnya lebih mirip bunyi cengat-cenget mesin.
Di pasar Muara Aman kami mendapat petunjuk arah ke satu titik tambang terdekat. Penanda tambang pun terlihat di sebuah toko di pinggir jalan yang menjual gelundung, silinder besi yang banyak dipakai dalam proses pengolahan bijih emas.
Sejurus kemudian tampak sebuah tugu berdiri di tengah jalan. Miniatur Monumen Nasional (Monas). Saya bersorak dalam hati karena teringat satu cerita. Emas yang di puncak Monas disebut-sebut berasal dari tanah Lebong. Entah benar tidaknya. Tapi sejarah juga mencatat bahwa 38 kg emas di puncak Monas adalah dari seorang Aceh kaya, Teuku Markam.
Tugu kecil penghadang jalan menjadi semacam penanda kawasan tambang, saya kira. Tapi kami pikir lebih baik bertanya lagi. Hendri, satu kawan, turun dari Mobil. Lalu, menyapa seorang ibu, “punteeen!”
Saya tergeli. Bisa-bisanya dia pakai bahasa Sunda di kawasan ulu sungai Musi ini. Kecil kemungkinan ada yang mengerti.
Si ibu paruh baya dengan riang menyambut. Pakai bahasa Indonesia. Tapi, logat Sunda kental, euy! Ia tampak gembira, mengira bertemu orang sedaerahnya. Untunglah Si Ibu pakai bahasa Indonesia. Kalau Sunda, kawan saya nyaho! Hendri hanya bisa meniru logat Sunda. Mungkin ia dapat dari pergaulannya, atau dari sinetron di tivi. Tapi, omong Sunda… Hendri teuk tiasa!
13316407101124540909
Di dalam lubang kacamata
Akhirnya, tiba di desa Lebong Tambang atau juga disebut Lebong Donok. Dua kilometer saja dari kota Muara Aman. Di kiri jalan tampak dinding batu berwarna abu-abu kekuningan dengan gurat merah karat di sana-sini dipadu rona warna lumut. Dari kejauhan tampak sepasang lubang raksasa di sisi tebing. Sekilas mirip kacamata. Warga setempat menyebutnya lubang kacamata.
Inilah salah satu titik ziarah yang saya tuju!
Lubang kacamata berada di ketinggian 4 meter dari kaki bukit batu. Lubang buatan pada pertambangan emas yang dibuka Belanda sekitar tahun 1905 – 1913. Mungkin bergungsi sebagai pintu masuk, mungkin sebagai lubang udara (ventilasi). Di dalamnya berupa gua dengan bentuk tak beraturan dan bercabang-cabang. Beberapa bagian gua cukup luas. Bahkan ada ruangan selebar kurang lebih 4 meter dengan atap setinggi 2 – 3 meter. Ada beberapa cabang yang arahnya ke vertikal ke bawah. Menurut masyarakat kedalamannya mencapai 50 meter. Tidak terlalu dalam jika dibandingkan dengan lubang tambang di kawasan Lebong Tandai. Di sana, Mijnbouw Maatschappij Simau, perusahaan tambang Belanda, mengejar urat emas dengan menggali ke bawah hingga 16 level. Kedalaman 1 level kurang lebih 40 meter.
Lubang (tambang) kacamata merupakan salah satu jejak kegiatan tambang masa Hindia-Belanda. Pada masa kejayaan perusahaan tambang Belanda, dari sana bisa diraup emas sekitar 10 kilogram per hari. Pada tahun 1942 kegiatan penambangan oleh Belanda berhenti. Belanda pergi terusir kalah oleh Jepang. Selanjutnya penambangan dilakukan masyarakat. Hingga akhir dekade 1950-an, usaha penambangan rakyat masih bisa menghasilkan pada kisaran 2 – 10 gram bijih emas per hari.
Kini lubang kacamata lebih banyak dimanfaatkan sebagai tempat wisata. Kalau pun ditambang, hampir tidak ada hasilnya. Begitu kata warga setempat. Kebetulan ada dua lelaki melintas di jalan kecil depan lubang kacamata. Langkah mereka cepat, badan agak terbungkuk memanggul karung. Noda tanah basah rembes mewarnai luar luar karung. Isinya pasti batu galian emas.
Mereka memang baru pulang dari lubang tambang. Tempatnya jauh dari lubang kacamata. “Di atas bukit sana!” kata mereka sambil berusaha menoleh tak utuh ke arah berlawanan dengan langkah kaki.
  • Mengais kerak emas
13316414431592107145
Areal PT. Tansri Madjid Energi
Meski masyarakat tak lagi mengejar urat emas di kawasan dekat lubang kacamata, beberapa perusahaan tambang agaknya berpikir lain. Selang beberapa meter dari lubang kacamata, ada areal yang dipagari seng bercat biru. Portal besi dan pos penjaga diam di sana. Ada sebuah papan nama bertulis “Wilayah Kuasa Pertambangan Eksploitasi Bahan Galian Emas — PT. Tansri Madjid Energi”. Areal berpagar seng tidak terlalu luas. Tak genap 1 hektar. Di dalamnya ada satu lubang pintu masuk ke gua tambang tua. Masih tebal kah‘kerak‘ emas di sana?
Areal itu dijaga Nurhasani, warga setempat. Umurnya 60-an. Nenek moyangnya asli Lebong. Dari tangannya yang kulit lengan sudah mengeriput, saya sambut 3 keping batu lempeng seukuran biskuit. Dikasih lihat. Mengandung emas, katanya. Kadar rendah. Sudah dua tahun eksplorasi dilakukan tapi belum ada kepastian bahwa perusahaan tempatnya bekerja akan membuka tambang di sana.
“Masih terus diteliti,” katanya pelan sambil memandangi batu mirip pualam putih susu dengan garis-garis halus warna gelap dan kehijauan. Sinar matanya meragukan kemasyhuran tambang emas di tanah kelahirannya itu akan kembali berkilau.
Sekitar tiga ratus meter dari lokasi yang dijaga Nurhasani, ada papan lain yang menerangkan proyek penyelidikan pendahuluan PT. Palapa Minerals. Ada logo hijau bertulis SCG berwarna emas dan tulisan Sumatra Copper and Gold Limited.
Di belakang papan nama ada sebuah rumah. Ada pondok sederhana di sebelahnya, tempat gelundung berputar pelan. Seorang lelaki usia 30-an tahun sibuk menyorong batu untuk ditumbuk oleh alu yang bergerak mekanis. Alu dan gelundung digerakkan turbin yang didorong air.
13316408661832901012
gelundung emas tradisional
Lelaki itu bernama Iis. Sekali dalam tiga hari dia mengolah batu-batu yang mengandung emas. Batu ditumbuk hingga halus menyerupai butir pasir bercampur tepung batu. Material itu kemudian dimasukkan ke dalam gelundung melalui lubang yang dapat dikunci. Dimasukkan pula air kurang lebih setengah volume gelundung. Gelundung sebenarnya sebuah tabung ber-as sehingga dapat di putar. Pada bagian dalam tabung terdapat beberapa batangan besi, biasanya terbuat dari as mobil bekas. Para penambang menyebut batang-batang besi itu sebagai ‘pelor’. Fungsinya untuk menggerus material batu halus, hingga bijih emas mudah terpisah dari material batuan dan tanah. Kurang lebih tiga jam kemudian, air ditambah hingga tiga per empat volume gelundung. Dicampurkan pula merkuri untuk mengikat material emas dalam proses ekstraksi logam mulia ini. Sekitar tiga atau empat jam kemudian air berikut batuan yang sudah halus dikeluarkan dari gelundung dan ditampung dalam wadah yang biasanya berupa baskom.
Di dalam air biji emas punya bobot lebih berat ketimbang material batu, apalagi dibanding material tanah. Langkah selanjutnya adalah memisahkan material emas yang terikat merkuri dari ‘kotoran’ berupa material batuan dan tanah. Caranya dengan terus mengalirkan air ke dalam baskom secara perlahan hingga air meluap membawa hanyut material kotoran, dalam wujud air keruh. Bila air baskom berubah jernih, air ditiriskan untuk didapat larutan merkuri dan emas yang lalu ditampung di kain kemudian diperas. Dapatlah emas yang masih terselubung merkuri. Penambang bisa langsung menjualnya, bisa pula memurnikan emasnya terlebih dahulu. Lalu dijual ke pembeli, umumnya toko emas.
Rata-rata tiap tiga hari —dua hari mencari batu di lubang tambang dan satu hari mengolah batuan di gelundung— Iis dapat 3 gram emas. “Banyak itu,’ cetus saya. Di kepala saya muncul perkiraan harga pasaran logam mulia itu.
“Mutu emasnya rendah. Satu gram harganya tujuh puluh lima ribu,” sahut Iis datar. Nadanya biasa. Sekonyong-konyong seolah hendak menggunting kekaguman saya. “Kadang malah dapat (emas) kurang dari 3 gram.”
Saya pikir masih untung Iis tak keluar biaya untuk kebutuhan energi gelundung. Di beberapa lokasi tambang, beberapa kawan menggunakan tenaga listrik untuk memutar gelundung. Seribu Watt. Sekitar 30 % biaya operasional bisa habis cuma untuk listrik. Iis juga tak capek menumbuk batuan mengandung emas dengan palu seperti penambang yang saya temui di kawasan dalam Sukabumi, atau Purwokerto. Jika pun Iis memakai palu, pastinya sangat berat. Sebab, emas di kawasan Lebong macam yang diolah lelaki itu, lekat di batuan keras. Sedang pada beberapa lokasi tambang emas rakyat yang saya tahu, batuannya boleh dibilang lunak. Kadang didominasi tanah.
Iis juga punya sawah. Sepetak kecil. Persis di sebelah pondok tempat gelundung emas miliknya. Hasilnya kata Iis tak banyak. Saat saya bertandang ke sana, sawah itu sedang tidak digarap. Rumpun padi sisa disabit tampak coklat lapuk di antara rumput. Di satu sudut sawah ada lubang agak lebar, tapi dangkal. Semula saya pikir sumur air. Ternyata bukan! Tanah galian di sawah itu juga diproses di gelundung. Ada emasnya tapi kadarnya rendah sekali. “Lumayan untuk tambahan, terutama saat tak bisa mengambil batuan emas di lubang tambang yang letaknya jauh,” tutur Iis.
Iis juga berdarah Sunda. Keturunan penambang emas pula. Kata Iis, hampir semua penambang emas rakyat di desa Lebong Tambang berdarah Sunda. Saya teringat ibu penunjuk jalan di dekat miniatur tugu Monas yang juga berbicara dengan logat Sunda. Teringat pula pada kawan-kawan pemburu urat emas dari kampung-kampung dekat Cijapun —kebun kecil yang saya kelola— di pedalaman Selatan Sukabumi. Mereka sanggup menyeberang pulau bila dapat kabar tentang tempat penambangan baru. Ke Bombana Sulawesi Tenggara hingga beberapa tempat di Nusa Tenggara. Salah satu kawan yang ketika terakhir bertemu sedang sibuk membangun rumah dari hasil mengejar urat emas di Panyabungan, Mandailing Natal, Sumatra Utara… mengabarkan ia bersiap mengejar urat emas di satu pelosok Atjeh.
13316903981016021440
Anak-anak Lebong
Ternyata banyak penduduk Lebong yang berasal dari suku Sunda. Kedatangan mereka berhubungan erat dengan sejarah eksploitasi emas pada zaman kolonial Belanda. Dimulai sejak beroperasinya Perusahaan Tambang Redjang Lebong (Mijnbouw Maatschappij Redjang Lebong) setelah satu tahun melakukan eksplorasi. Perusahaan milik pengusaha Belanda ini mendatangkan orang Sunda dari Jawa Barat dan orang Cina Singapura untuk dijadikan kuli tambang. Tahun-tahun berikutnya bermunculan pula perusahaan tambang Belanda, baik milik pemerintah maupun swasta. Salah satunya Mijnbouw Maatschappij Simau atau Perusahaan Tambang Simau. Geliat tambang mendatangkan lebih banyak penduduk dari Pulau Jawa, baik suku Sunda maupun Jawa. Ditambah dengan program transmigrasi untuk kuli perkebunan di sekitar sana, makin banyaklah kampung orang Sunda dan Jawa tumbuh.
Tidak sukar menerka bagaimana keadaan di kawasan ini sebelum era pertambangan skala besar. Pastilah sepi. Kebanyakan kota di Sumatra tumbuh pada dua tempat saja. Di sisi laut atau dibelah sungai yang mudah untuk moda transportasi sungai. Selebihnya, kota-kota tumbuh karena aktifitas perkebunan atau pertambangan di era kolonialisasi. Muara Aman dan sekitarnya, tumbuh karena tambang. Lalu seperti kota tambang lainnya, macam Sawahlunto, ‘batavia kecil’ Tandai, dan beberapa titik lain di sepanjang cincin api. Bahan tambang habis kota (pelan-pelan) binasa.
Dari pedalaman Bengkulu ini memang tak semua perusahaan tambang Belanda beroleh untung. Tapi setidaknya dua perusahaan, Redjang Lebong dan Simau, berhasil meraup 130 ton emas selama berproduksi kurang dari setengah abad (1896-1941). Perusahaan pergi membawa hasil, penduduk mengais-ngais kerak emas tersisa.
Nasib kota-kota tambang, tak ubahnya kisah-kisah dalam roman percintaan yang berakhir tak bahagia pada banyak buku. Lebih dari cukup untuk pembelajaran bagi bangsa ini untuk menata-ulang pemahaman tentang pengelolaan hasil tambang. Sementara catatan ini saya rampungkan, beberapa kawan penggiat lingkungan di Bengkulu setengah menyesalkan kenapa saya tak sampai ke kawasan Lebong Tandai. Tempat paling monumental dan massif dalam sejarah pengerukan emas di belantara Bengkulu. Padahal, kata mereka, Lebong Tandai sudah tak jauh dari depan hidung saya saat itu. Aduh!